Wednesday, August 24, 2011

Latar Belakang dan Sejarah Teknik Industri di Indonesia


Revolusi Industri, yang dimulai di Inggris pada abad ke-delapan belas , mengubah secara drastis praktik-praktik manufaktur yang memicu kelahiran dunia ilmiah pada abad berikutnya. Inovasi teknologi bermunculan  mempermudah suatu sistem pabrik untuk memproduksi lebih banyak produk dengan tenaga kerja yang sedikit dan memberikan mekanisasi dari banyak operasi manual tradisional dalam dunia industri tekstil. Inovasi terpenting yang mengawalinya adalah mesin uap yang dikembangkan oleh James Watt pada tahun 1765 yang memberikan pabrik-pabrik sumber energi uap yang murah untuk menghasilkan produk yang melimpah.

Teknik Industri lahir pada akhir abad ke - sembilan belas. Teknik Industri adalah profesi dinamis yang perkembangannya didorong oleh tantangan dan tuntutan dari manufaktur, pemerintah dan layanan organisasi sepanjang abad kedua puluh. Teknik Industri juga merupakan profesi yang masa depannya tidak hanya bergantung pada kemampuan praktisi untuk bereaksi dan memfasilitasi operasional dan perubahan organisasi tapi lebih kepada kemampuan mereka untuk mengantisipasi dan memimpin perubahan itu sendiri. 


Dalam berjalannya era industri lahirlah konsep-konsep dari para tokoh pemikir untuk lebih mengefektikan dan mengefisiensikan produktivitas pekerja. Konsep tentang spesialisasi pekerja yang disampaikan Adam Smith, “motion and time” dari charles Babbage, “Interchangeable manufacture” dari Eli Whitney, dan yang paling utama adalah konsep dari Frederick Winslow Taylor mengenai “scientific method” dan beberapa tokoh lainnya seperti Frank Gilbert dan Lillian Gilberth menuntut keahlian teknis yang terlatih yang dapat merencanakan, mengorganisasikan dan menggerakkan/memimpin operasi-operasi dari sebuah sistem yang besar dan kompleks.

Sejarah Teknik Industri di Indonesia di awali dari kampus Universitas Sumatera Utara [USU] Medan pada tahun 1965 dan dilanjutkan dengan Teknik Industri ITB Institut Teknologi Bandung. Sejarah pendirian pendidikan Teknik Industri di ITB tidak terlepas dari kondisi praktek sarjana mesin pada tahun lima-puluhan. Pada waktu itu, profesi sarjana Teknik mesinmerupakan kelanjutan dari profesi pada zaman Belanda, yaitu terbatas pada pekerjaan pengoperasian dan perawatan mesin atau fasilitas produksi. Barang-barang modal itu sepenuhnya diimpor, karena di Indonesia belum terdapat pabrik mesin.

Di Universitas Indonesia, keilmuan Teknik Industri telah dikenalkan pada awal tahun tujuh puluhan, dan merupakan sub bagian dari keilmuan Teknik Mesin. Sejak 30 Juni 1998, diresmikanlah Jurusan Teknik Industri (sekarang Departemen Teknik Industri) Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Pada saat itu, dalam menjalankan profesi sebagai sarjana Teknik Mesin dengan tugas pengoperasian mesin dan fasilitas produksi, tantangan utama yang mereka hadapi ialah bagaimana agar pengoperasian itu dapat diselenggarakan dengan lancar dan ekonomis. Jadi fokus pekerjaan sarjana Teknik Mesin pada saat itu ialah pengaturan pembebanan pada mesin-mesin agar kegiatan produksi menjadi ekonomis, dan perawatan (maintenance) untuk menjaga kondisi mesin supaya senantiasa siap pakai. Sedangkan sarjana Teknik Mesin tidak mempelajari sistem pengoperasian tersebut secara keseluruhan. Sekitar tahun 1955, terdapat gagasan untuk menambah perkuliahan tambahan bagi para mahasiswa Teknik Mesin dalam bidang pengelolaan pabrik. 

Pada tahun yang sama, orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia karena terjadi krisis hubungan antara Indonesia-Belanda, sebagai akibatnya, banyak pabrik yang semula dikelola oleh para administratur Belanda, mendadak menjadi vakum dari keadministrasian yang baik. Pengalaman ini menjadi dorongan yang semakin kuat untuk terus memikirkan gagasan pendidikan alternatif bidang keahlian di dalam pendidikan Teknik Mesin.

Pada awal tahun 1958, mulai diperkenalkan beberapa mata kuliah baru di Departemen Teknik Mesin, diantaranya : Ilmu Perusahaan, Statistik, Teknik Produksi, Tata Hitung Ongkos dan Ekonomi Teknik. Sejak itu dimulailah babak baru dalam pendidikan Teknik Mesin di ITB, mata kuliah yang bersifat pilihan itu mulai digemari oleh mahasiswa Teknik Mesin dan juga Teknik Kimia dan Tambang.

Sementara itu pada sekitar tahun 1963-1964 Bagian Teknik Mesin telah mulai menghasilkan sebagian sarjananya yang berkualifikasi pengetahuan manajemen produksi/teknik produksi. Bidang Teknik Produksi semakin berkembang dengan bertambahnya jenis mata kuliah. Mata kuliah seperti : Teknik Tata Cara, Pengukuran Dimensional, Mesin Perkakas, Pengujian Tak Merusak, Perkakas Pembantu dan Keselamatan Kerja cukup memperkaya pengetahuan mahasiswa Teknik Produksi.

Pada tahun 1966 - 1967, perkuliahan di Teknik Produksi semakin berkembang. Mata kuliah yang berbasis teknik industri mulai banyak diperkenalkan. Sistem man-machine-material tidak lagi hanya didasarkan pada lingkup wawasan manufaktur saja, tetapi pada lingkup yang lebih luas yaitu perusahaan dan lingkungan. Dalam pada itu, di Departemen ini mulai diajarkan mata kuliah : Manajemen Personalia, Administrasi Perusahaan, Statistik Industri, Perancangan Tata Letak Pabrik, Studi Kelayakan, Penyelidikan Operasional, Pengendalian Persediaan Kualitas Statistik dan Programa Linier. Sehingga pada tahun 1967, nama Teknik Produksi secara resmi berubah menjadi Teknik Industri dan masih tetap bernaung di bawah Bagian Teknik Mesin ITB. Pada tahun 1968 - 1971, dimulailah upanya untuk membangun Departemen Teknik Industri yang mandiri. Upaya itu terwujud pada tanggal 1 Januari 1971.

Monday, August 22, 2011

Manfaat dan Perbedaan dari Masing-Masing Tools Perencanaan Proses


Manfaat dan Perbedaan  dari Masing-Masing Tools Perencanaan Proses
Analisis manfaat dan perbedaan tools

Lembar Rencana Proses (LRP)
Manfaat:
-    Untuk mengetahui proses-proses yang akan dilaksanakan dalam produksi suatu komponen
-    Untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam proses produksi suatu komponen
-    Untuk memperkirakan kebutuhan bahan baku komponen
-    Untuk mengetahui stasiun kerja untuk setiap proses
-    Untuk mengetahui alat bantu dan tools yang dibutuhkan untuk setiap proses
-    Sebagai salah satu cara untuk menentukan tata letak pabrik

Assembly Chart (AC)
Manfaat:
-    Untuk menunjukkan komponen penyusun suatu produk
-    Untuk menjelaskan urutan perakitan komponen-komponen

Precedence Diagram (PD)
Manfaat:
-    Membantu menggambarkan aliran aktivitas
-    Membantu mengidentifikasi aktivitas yang hilang
-    Membantu mengidentifikasi ketergantungan antar aktivitas
-    Membantu mengidentifikasi aktivitas kritis
-    Membantu membuat jadwal proses

Bill of Material (BOM)
Manfaat:
-    Untuk menentukan komponen mana yang diproduksi dan mana yang dibeli
-    Sebagai alat pengendali produksi yang menspesifikasikan bahan-bahan kandungan yang penting dari suatu produk, pesanan yang harus digabungkan dan seberapa banyak yang dibutuhkan untuk satu batch
-    Untuk forecasting (peramalan) barang yang keluar masuk inventori
-    Menghitung jumlah komponen yang dapat diproduksi berdasarkan kemampuan sumber daya yang dimiliki

Operation Process Chart (OPC)
Manfaat:
-    Bisa untuk mengetahui kebutuhan mesin dan penganggarannya
-    Bisa untuk memperkirakan kebutuhan bahan baku
-    Sebagai salah satu alat untuk menentukan tata letak pabrik
-    Sebagai salah satu alat untuk memperbaiki cara kerja
-    Sebagai alat untuk pelatihan kerja




Perbedaan LRP dan AC:
-    LRP menunjukkan urutan-urutan proses dalam produksi komponen, sedangkan AC menunjukkan urutan-urutan perakitan produk
-    LRP dibuat per komponen, sedangkan AC dibuat per produk yang terdiri dari komponen-komponen
-    Pada LRP terdapat informasi waktu, sedangkan pada AC tidak ada
-    Pada LRP terdapat informasi material, pada AC tidak

Perbedaan LRP dan PD:
-    LRP menunjukkan urutan-urutan proses produksi komponen, sedangkan PD menunjukkan urutan aktivitas dan hubungan-hubungan antar aktivitas
-    Dalam LRP terdapat daftar stasiun kerja, alat bantu dan tools, pada PD tidak
-    Pada LRP terdapat informasi waktu dan material, pada PD tidak

Perbedaan LRP dan BOM:
-    LRP menujukkan urutan-urutan proses produksi komponen, sedangkan BOM menunjukkan daftar item
-    Pada BOM terdapat keputusan untuk membuat atau membeli suatu komponen

Perbedaan LRP dan OPC:
-    OPC dapat menunjukkan proses produksi dan perakitan keseluruhan produk, LRP hanya menunjukkan proses produksi komponen satu persatu
-    Pada LRP terdapat ukuran awal material yang akan diproses, pada OPC tidak ada
-    Pada OPC terdapat informasi % scrap, pada LRP tidak ada
-    Pada OPC terdapat proses storage
-    Pada LRP terdapat informasi alat bantu dan tools yang digunakan, pada OPC tidak ada
-    Pada OPC terdapat ringkasan proses operasi, inspeksi dan storage, pada LRP semuanya digabung dalam urutan proses
-    OPC dapat digunakan dalam perbaikan sistem kerja

Perbedaan AC dan PD:
-    AC menunjukkan urutan-urutan perakitan produk, sedangkan PD menunjukkan urutan aktivitas dan hubungan-hubungan antar aktivitas

Perbedaan AC dan BOM:
-    AC menunjukkan urutan-urutan perakitan produk, sedangkan BOM menunjukkan daftar item tanpa urutan perakitannya
-    Pada BOM terdapat keputusan untuk membeli atau membuat komponen
-    Pada AC harus dicantumkan fastener yang digunakan, sedangkan pada BOM tidak harus dicantumkan fastener

Perbedaan AC dan OPC:
-    AC menunjukkan urutan-urutan perakitan produk saja, sedangkan OPC juga menunjukkan urutan-urutan proses produksi komponen-komponennya.
-    Pada OPC terdapat informasi material dan waktu, sedangkan pada AC tidak ada
-    OPC dapat digunakan dalam perbaikan sistem kerja

Perbedaan PD dan BOM:
-    PD menunjukkan urutan-urutan aktivitas dan hubungan-hubungan antar aktivitas, sedangkan BOM hanya menunjukkan daftar item

Perbedaan PD dan OPC:
-    PD hanya menunjukkan urutan aktivitas dan hubungan antar aktivitas, sedangkan OPC menunjukkan proses produksi komponen sampai perakitan produk
-    pada LRP terdapat informasi material dan waktu, pada PD tidak ada
-    OPC dapat digunakan dalam perbaikan sistem kerja

Perbedaan BOM dan OPC:
-    OPC menunjukkan proses produksi komponen dan juga proses perakitan, sedangkan BOM hanya menunjukkan daftar item
-    OPC dapat digunakan dalam perbaikan sistem kerja

Urutan Pembuatan Tools Perencanaan Proses


Urutan Pembuatan Tools Perencanaan Proses

1.    Pembuatan tools perencanaan proses yang pertama adalah pembuatan Assembly Chart (AC), kemudian pembuatan Precedence Diagram (PD). Pembuatan AC dilakukan sebelum PD karena PD dibuat berdasarkan AC. Penulisan keterangan pada PD pun, pada bagian-bagian yang telah diassembly, mengikuti penamaan pada AC (contoh: S9A1).

2.    Bersamaan dengan pembuatan AC dan PD, dilakukan pembuatan Multilevel Tree, kemudian baru Bill of Material (BOM). Pembuatan BOM setelah Multilevel Tree, karena dari pembuatan Multilevel Tree kita dapat menentukan penomoran dan level part, untuk menentukan posisi suatu komponen pada Multilevel BOM, karena komponen yang semakin besar nilai levelnya, penulisan pada Multilevel BOM-nya semakin menjorok ke dalam.

3.    Pembuatan Lembar Rencana Proses (LRP) dapat dilakukan sebelum, setelah, maupun berbarengan dengan proses-proses di atas, karena pembuatannya tidak saling berhubungan. Setelah semuanya, baru dibuat Operation Process Chart (OPC). Karena OPC memuat informasi tentang urutan-urutan proses pembuatan komponen yang terdapat pada LRP, dan juga daftar komponen dan urutan perakitan yang bisa didapat dari BOM, AC, dan PD.

Diagram Siklus Manufaktur







Diagram Siklus manufaktur, perkotak adalah nama mata kuliah yang dipelajari di program study teknik Industri :
Siklus Manufaktur