Wednesday, October 5, 2011

Analisis Prinsip Ekonomi Gerakan


Analisis Prinsip Ekonomi Gerakan

Dalam perancangan sistem kerja, diperlukan gerakan-gerakan kerja yang ekonomis dan benar. Seperti pada prinsip dasar ekonomi, yaitu “melakukan usaha seminimal mungkin dan mendapatkan hasil semaksimal mungkin”, maka kerja akan menjadi lebih cepat dan hemat tenaga.

                4.3.1       Perakitan

Pada perakitan, terdapat beberapa gerakan yang belum sesuai dengan prinsip ekonomi gerakan, meliputi:
·         Mengambil komponen yang di luar jangkauan.
Prinsip ekonomi gerakan dihubungkan dengan pengaturan tata letak tempat kerja. Dari analisis Therblig, diketahui bahwa untuk menjangkau jarak yang pendek diperlukan waktu yang lebih singkat dibandingkan bila jaraknya lebih jauh. Selain itu, jarak jangkau benda dengan lengan pekerja dapat pula mempengaruhi waktu pengambilan benda tersebut.
·         Ada tangan yang menganggur (idle) dan tidak memulai gerakan secara bersamaan (tangan kanan dan kiri)
Prinsip ekonomi gerakan dihubungkan pula dengan tubuh manusia dan gerakan-gerakannya. Setiap pekerjaan akan menjadi lebih mudah dan cepat jika dikerjakan oleh kedua tangan secara bersamaan. Gerakan yang simetris juga dapat mencapai keseimbangan antara satu dengan lainnya, sehingga tidak cepat menimbulkan kelelahan.
·         Pencarian letak komponen yang akan dirakit (search)
Pencarian letak komponen yang akan dirakit dapat disebabkan karena peletakan komponen yang banyak dan tidak berurutan. Peletakan yang berurutan dapat memudahkan proses perakitan.
Dalam proses perakitan dongkrak ditemukan pula gerakan-gerakan yang sudah memenuhi prinsip ekonomi gerakan, antara lain:
o    Gerakan tangan tidak patah-patah.
Gerakan yang patah-patah memperlambat waktu penyelesaian kerja. Semakin banyak perubahan arah gerak, semakin banyak waktu yang diperlukan.

o    Kedua tangan berakhir bersama-sama.
Pekerjaan akan lebih cepat selesai bila kedua tangan dimulai dan berakhir secara bersama-sama.
o    Gerakan hanya bagian badan yang diperlukan saja.
Dalam kasus ini (perakitan dongkrak), badan tidak perlu ikut berputar-putar. Cukup dengan berdiri di depan meja dan menggerakkan tangan kita dapat merakit dongkrak.

                4.3.2       Inspeksi

Tidak jauh berbeda dengan proses perakitan, pada proses inspeksi terdapat gerakan yang belum sesuai dengan prinsip ekonomi gerakan, antara lain:
·         Ada tangan yang menganggur (idle)
Tangan menganggur dalam kerja dapat mengakibatkan ketidakseimbangan antara satu dengan lainnya. Hal ini membuat banyak waktu yang terbuang dan menimbulkan kelelahan. Prinsip ekonomi gerakan dihubungkan dengan tubuh manusia dan gerakan-gerakannya. Setiap pekerjaan akan lebih mudah dan cepat jika dikerjakan oleh kedua tangan secara bersamaan. Gerakan yang simetris juga dapat mencapai keseimbangan antara satu dengan lainnya, sehingga tidak cepat menimbulkan kelelahan.
·         Mengambil komponen yang di luar jangkauan.
Prinsip ekonomi gerakan dihubungkan dengan pengaturan tata letak tempat kerja. Dari analisis therblig, diketahui bahwa untuk menjangkau jarak yang pendek diperlukan waktu yang lebih singkat dibandingkan bila jaraknya lebih jauh. Selain itu, jarak jangkau benda dengan lengan pekerja dapat pula mempengaruhi waktu pengambilan benda tersebut.
Berikut gerakan-gerakan pada proses inspeksi yang sesuai dengan prinsip ekonomi gerakan.
o    Gerakan hanya bagian badan yang diperlukan saja.
Dalam kasus ini (perakitan dongkrak), tidak perlu badan ikut berputar-putar. Cukup dengan berdiri di depan meja dan menggerakkan tangan kita dapat merakit dongkrak.

Analisis Pemborosan Elemen Gerakan Therblig


Analisis Pemborosan Elemen Gerakan Therblig

Pemborosan yang terjadi selama proses perakitan dan inspeksi  beserta elemen geraknya dijelaskan pada tabel berikut.
No.
Pemborosan
Elemen Gerak
Jenis Pemborosan
1.
Positioning benda
avoidable delay
Gerakan kerja
2.
Tangan tidak melakukan gerakan apapun (idle)
avoidable delay
Gerakan kerja
3.
Mengambil komponen yang di luar jangkauan
avoidable delay
Gerakan kerja
4.
Posisi dongkrak tidak stabil selama proses inspeksi
avoidable delay
Waktu menunggu
5.
Mencari komponen yang akan dirakit (search)
avoidable delay
Gerakan kerja
6.
Kesulitan mengarahkan fastener ke lubang
avoidable delay
Gerakan kerja
7.
Penundaan pada sub­-assembly yang telah dirakit
avoidable delay
Waktu menunggu

Dari tujuh jenis pemborosan yang dikembangkan oleh Shigeo Shingo, hanya dua yang ditemukan selama proses perakitan dan inspeksi dongkrak.
(1) Gerakan Kerja
Gerakan kerja selama proses perakitan dan inspeksi dongkrak yang tidak memberikan nilai tambah: positioning benda, tangan tidak melakukan gerakan apapun (idle), mengambil komponen yang di luar jangkauan, mencari komponen yang akan dirakit (search), dan kesulitan mengarahkan fastener ke lubang.
(2) Waktu Menunggu
Posisi dongkrak yang tidak stabil selama proses inspeksi dan penundaan pada sub­-assembly yang telah dirakit tentu menimbulkan waktu tunggu dan merupakan kegiatan pemborosan.

Analisis Penggunaan PTKTK Teknik Industri


Analisis Penggunaan PTKTK

Peta tangan kanan tangan kiri adalah suatu peta setempat yang menggambarkan seluruh gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tangan kiri dan tangan kanan saat bekerja maupun saat mengganggur. Peta tangan kanan tangan kiri digunakan untuk menganalisis gerakan-gerakan yang efisien dan diperlukan saat melaksanakan pekerjaan. Metode pemetaan ini tentunya juga berperan dalam perancangan tata letak stasiun kerja agar tercipta stasiun kerja yang baik sehingga dapat meminimasi waktu produksi.
Peta tangan kanan tangan kiri juga dapat menunjukkan perbandingan tugas atau beban kerja yang dilakukan oleh tangan kiri dan tangan kanan. Gerakan kerja yang kurang efisien akan terlihat pada peta tangan kanan tangan kiri sehingga membantu perubahan SOP untuk diikuti pekerja. Perubahan SOP ini bertujuan untuk mengurangi gerakan-gerakan yang tidak diperlukan pekerja dalam proses produksi sehingga proses produksi mencapai waktu yang minimal dan mencapai kondisi kerja yang EASNE.
Dalam penerapannya di industri, peta tangan kiri tangan kanan digunakan sebagai salah satu dasar untuk menetapkan SOP dan waktu standar untuk pembuatan sebuah produk. Dari waktu standar ini kemudian dapat dirancang sistem produksi seperti perencanaan jumlah mesin yang digunakan, jumlah pekerja yang diperlukan, penjadwalan produksi, dan perhitungan biaya produksi. Selain itu, dalam industri manufaktur besar, peta tangan kiri tangan kanan juga digunakan sebagai dasar perancangan gerakan robot atau mesin dalam proses manufaktur sehingga mencapai waktu produksi per produk yang minimal.

Analisis Kondisi Existing Stasiun Kerja


Analisis Kondisi Existing Stasiun Kerja

                Kondisi existing stasiun kerja berpengaruh cukup besar pada berjalannya proses pada suatu sistem kerja. Pada praktikum kali ini kami memetakan layout meja tempat perakitan dan kondisi lingkungan fisik saat proses berlangsung.

                4.5.1       Layout Meja Perakitan Existing

                Gambar sketsa layout meja perakitan telah dilampirkan pada bab 3 sebelumnya. Layout meja pekerja disketsakan dengan menggambarkan letak komponen-komponen yang akan dirakit pada meja tersebut. Kondisi awal peletakan komponen pada meja kerja diletakkan secara tidak teratur, dan tidak berdasarkan pada aturan atau prosedur tertentu. Peletakan komponen yang tidak teratur ini menimbulkan gangguan pada proses perakitan dan inspeksi. Hal ini terlihat pada tabel pemborosan yang telah dilampirkan pada bab 3. Letak komponen-komponen yang tidak teratur ini menyulitkan pekerja karena pekerja harus berhenti sejenak untuk mencari letak komponen yang akan dirakit, terlebih lagi bila komponen yang akan diambil merupakan komponen kecil seperti ring dan bolt pekerja harus memakan waktu lama untuk mencari komponen tersebut. Selain itu pada layout meja perakitan existing, ada beberapa komponen yang peletakannya di luar jarak jangkauan maksimal dari pekerja. Hal ini terlihat saat pekerja akan mengambil komponen yang akan dirakit, pekerja harus membungkuk untuk meraih komponen tersebut. Kondisi sistem kerja ini bisa menyebabkan pemborosan dalam segi waktu dan bila bekerja dalam rentang waktu yang lama pekerja akan cepat merasa lelah.

                4.5.2       Kondisi Lingkungan Fisik Existing

                                Pada praktikum kali ini dilakukan empat jenis pengukuran pada kelembapan, pencahayaan, kebisingan dan temperatur. Keempat jenis nilai ini telah disebutkan pada bab sebelumnya, yaitu:
a.           Intensitas Pencahayaan            : 91,89 Lux
b.          Intensitas Kebisingan : 81,33 dB
c.           Kelembaban Udara                    : 53% RH
d.          Temperatur                                 : 29,73 0C

Dalam mengukur empat besaran ini dilgunakan multimeter 4 in 1. Dalam Multimeter ini terdapat 4 satuan, yaitu Lux, dB, Celcius dan %RH. Gunakan satuan sesuai dengan keperluan. Misalnya, untuk mengukur intensitas cahaya gunakan satuan Lux, untuk mengukur intensitas kebisingan gunakan satuan dB, untuk mengukur kelembaban udara gunakan satuan %RH, dan untuk mengukur temperatur gunakan satuan Celcius. Multimeter 4 in 1 ini juga dilengkapi alat penangkap cahaya dan bunyi.
Hasil pengukuran diatas menunjukan bahwa pencahayaan pada stasiun kerja perakitan dan inspeksi kurang dari standar yang optimal. Menurut standar AS 1689 dalam ‘Interior Lighting’, perakitan yang memungkinkan untuk membedakan barang-barang kecil dan memasangkannya dibutuhkan intensitas pencahayaan minimal sebesar 200 Lux (termasuk kategori pekerjaan kasar dan terus menerus). Bahkan, dapat juga dimasukan ke dalam kategori pekerjaan rutin yang tingkat pencahayaannya minimal sebesar 300 Lux. Sedangkan, kondisi lingkungan fisik pada stasiun kerja perakitan dan inspeksi tersebut jauh dari standar optimal (91,89 Lux). Hal ini dapat mempengaruhi kinerja pekerja saat melakukan perakitan dan inspeksi karena dapat menimbulkan gangguan atau kelelahan penglihatan selama kerja. Pengaruh kelelahan penglihatan ini berdampak pada kehilangan produktivitas dan kualitas kerja menurun (penurunan performansi).
Berbeda dengan pencahayaan, intensitas kebisingan pada stasiun kerja perakitan dan inspeksi sudah memenuhi standar. Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 51/MEN/1999 (pembaharuan dari Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. 01/MEN/1978) dan Keputusan Menteri Kesehatan No. 405/Menkes/SK/XI/2002, Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan di stasiun kerja adalah sebesar rata-rata 85 dB-A untuk batas waktu kerja terus-menerus (tidak lebih dari 8 jam atau 40 jam seminggu). Walaupun tingkat kebisingan stasiun kerja perakitan dan inspeksi sebesar 81,33 dB termasuk tingkat yang sangat kuat (80 – 100 dB), namun masih dalam batas aman untuk melakukan kerja terus-menerus.
Selain itu, suhu dalam lingkungan fisik juga dapat mempengaruhi kinerja seorang pekerja. Suhu lingkungan kerja dipengaruhi oleh kelembaban udara dan temperatur. Menurut Grandjean, untuk negara dengan dua musim (Indonesia), batas toleransi suhu tinggi pada lingkungan kerja adalah sebesar 35-40 C dengan kelembaban antara 40-50% RH. Dari hasil pengukuran diatas, terlihat bahwa kelembaban udara pada stasiun kerja perakitan dan inspeksi terlalu tinggi dan temperaturnya masih dibawah batas atas. Tingkat kelembaban yang tinggi menyebabkan penguapan lebih cepat sehingga suhu lingkungan menjadi panas. Untuk kondisi optimum, lingkungan kerja yang baik bertemperatur ruangan sebesar 24 C. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 405/Menkes/SK/XI/2002, Nilai Ambang Batas (NAB) untuk temperatur ruangan sebesar 18-30 C dengan kelembabannya antara 65-90%, sehingga stasiun kerja perakitan dan inspeksi masih dalam batas aman bekerja.