Saturday, September 24, 2011

Jenis Peta Kerja Production Variety Funnel


1.       ProductionVariety Funnel
Production variety funnel merupakan alat yang berasal dari disiplin ilmu manajemen operasi dan telah pernah diaplikasikan oleh New (1993) pada industri tekstil. Metode ini berguna untuk mengetahui pada area mana terjadi  bottleneck dari input bahan baku, proses produksi sampai pengiriman ke konsumen. Ada beberapa karakteristik yang berhasil dirumuskan karena adanya perbedaan proses produksi di industri dengan production variety funnel. Jenis pabrik “ I” adalah jenis pabrik yang produksinya cenderung tidak berubah dari item produk yang beragam seperti industri kimia. Jenis pabrik “V” adalah jenis pabrik yang jumlah bahan bakunya terbatas akan tetapi variasi produknya banyak, seperti industri tekstil dan metal. Jenis pabrik “A” bertolak belakang dengan jenis pabrik “V”, dimana jenis bahan bakunya banyak akan tetapi produk jadinya relatif terbatas seperti industri pesawat terbang. Adapun jenis pabrik “T” berkarakteristik produk jadinya relatif beragam dari jumlah komponen yang terbatas, seperti industri elektronik dan rumah tangga.

Jenis Peta Kerja Proses Activity Mapping


1.       Proses Activity Mapping
Alat ini sering digunakan oleh ahli teknik industri untuk memetakan keseluruhan aktivitas secara detail guna mengeliminasi waste, ketidakkonsistenan, dan keirasionalan di tempat kerja sehingga tujuan meningkatkan kualitas produk dan memudahkan layanan, mempercepat proses dan mereduksi biaya diharapkan dapat terwujud. Process activity mapping akan memberikan gambaran aliran fisik dan informasi, waktu yang diperlukan untuk setiap aktivitas, jarak yang ditempuh dan tingkat persediaan produk dalam setiap tahap produksi. Kemudahkan identifikasi aktivitas terjadi karena adanya penggolongan aktivitas menjadi lima jenis yaitu operasi, transportasi, inspeksi, delay dan penyimpanan. Operasi dan inspeksi adalah aktivitas yang bernilai nilai tambah. Sedangkan transportasi dan penyimpanan berjenis penting tetapi tidak bernilai tambah. Adapun delay adalah aktivitas yang dihindari untuk terjadi sehingga merupakan aktivitas berjenis tidak bernilai tambah.
Process activity mapping terdiri dari beberapa langkah sederhana: (1) dilakukan analisa
awal untuk setiap proses yang ada, (2) mengindentifikasi waste yang ada, (3) mempertimbangkan proses yang dapat dirubah agar urutan proses bisa lebih efisien, (4) mempertimbangkan pola aliran yang lebih baik, dan (5) mempertimbangkan segala sesuatu untuk setiap aliran proses yang benar-benar penting saja (Practical Management Research Group, 1993).

Metode Identifikasi Masalah Teknik Industri


METODE IDENTIFIKASI MASALAH
Dalam suatu sistem kerja, sering  dijumpai inefisiensi kerja yang dapat berupa suatu pemborosan-pemborosan kerja. Kita dapat menghilangkan inefisiensi kerja tersebut dengan melakukan perbaikan terhadap sistem kerja menggunakan metode 8 langkah pemecahan masalah.

7 Jenis Pemborosan
Fujio Cho mendefinisikan pemborosan sebagai sesuatu yang  lebih dari kebutuhan minimum atas peralatan, bahan, komponen, tempat dan waktu kerja, yang mutlak diperlukan untuk proses nilai tambah suatu produk. Namun secara lebih jauh lagi, pemborosan diartikan  sebagai segala sesuatu yang tidak memberikan nilai tambah. Metode pengelompokkan pemborosan yang umum digunakan adalah 7 jenis pemborosan yang dikembangkan oleh Shigeo Shingo, yaitu sebagai berikut :
1.  Over produksi
Kegiatan produksi di luar kebutuhan menyebabkan pemborosan yang menimbulkan biaya-biaya tambahan seperti biaya  inventory, ruang kerja, modal, mesin, tenaga kerja dan lain-lain. 
2. Waktu menunggu
Waktu menunggu, baik pada material, operator, maupun mesin, merupakan kegiatan pemborosan.
3.  Transportasi
Transportasi merupakan kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah, namun sifatnya ‘perlu ada’, sehingga perlu diminimasi.
4.  Pemrosesan
Proses produksi yang tergolong pemborosan adalah proses yang sebenarnya dapat dihilangkan, yang biasanya terjadi karena kesalahan penyusunan metode kerja.
5.  Tingkat persediaan barang
Penyimpanan barang yang berlebihan, baik berupa inventory maupun work in process, menimbulkan pemborosan terutama dalam hal biaya.
6.  Gerakan kerja
Seringkali  terdapat gerakan kerja yang tidak memberikan nilai tambah terhadap produk, yang sebenarnya dapat dihilangkan.
7.  Cacat produksi
Cacat produksi dapat menimbulkan kerja, biaya dan waktu tambahan bila diperlukan  rework, serta dapat menurunkan citra perusahaan bila cacat tersebut sampai di tangan konsumen.   

8 Langkah Pemecahan Masalah
Untuk memperbaiki suatu sistem kerja yang dikatakan tidak efisien, perlu dilakukan penelusuran sumber masalah yang menyebabkan ketidakefisienan tersebut. Setelah itu, masalah tersebut harus diperbaiki dan tidak boleh terjadi lagi. Metode  8 langkah pemecahan masalah memberikan tahapan  sistematis yang membantu dalam perbaikan sistem kerja tersebut, yaitu sebagai berikut:
1.  Menentukan prioritas masalah
2.  Mencari sebab-sebab yang mengakibatkan masalah
3.  Meneliti sebab-sebab yang paling berpengaruh
4.  Menyusun langkah-langkah perbaikan
5.  Melaksanakan langkah-langkah perbaikan
6.  Meneliti hasil perbaikan yang dilakukan
7.  Mencegah terulangnya masalah yang sama
8.  Menyelesaikan masalah selanjutnya yang belum terpecahkan sesuai dengan kategori skala prioritas berikutnya

Seven tools
Seven tools atau yang biasa disebut Seven Quality Control tools merupakan salah satu metode untuk menjabarkan masalah-masalah yang terdapat pada suatu sistem kerja, kemudian mencari penyebab dari permasalahan tersebut, sehingga dapat diterapkan untuk pengendalian kualitas (quality control). Yang termasuk dalam 7 tools diantaranya:

1.  Check sheet
Check sheet  merupakan lembar pemeriksaan untuk memudahkan dan menyederhanakan pencatatan data.
2.  Histogram
Histogram menggambarkan bentuk distribusi karakteristik mutu yang dihasilkan oleh data yang dikumpulkan melalui check sheet.


3.  Diagram pareto
Diagram ini menggambarkan unsur karakteristik mutu yang paling dominan dari  unsur-unsur lainnya. Diagram pareto dapat digunakan untuk mengetahui faktor penyebab masalah yang memiliki frekuensi paling tinggi. 


4.  Diagram sebab akibat
Fishbone diagram  digunakan untuk mencari semua penyebab dari suatu permasalahan berdasarkan komponen-komponen yang terkait pada sistem kerja tersebut.
5.  Stratifikasi
Tool ini mengelompokkan sekumpulan data yang mempunyai karakteristik sama.


6.  Diagram tebar
Scatered diagram  digunakan untuk menentukan korelasi antara penyebab dan akibat yang timbul dari suatu permasalahan.


7.  Grafik dan peta kendali
Tool ini digunakan untuk menetapkan batas-batas tindakan pengambilan keputusan dalam pengendalian mutu secara statistik.

Five whys
Metode  five whys  digunakan untuk mencari  sumber permasalahan. Metode ini dilakukan dengan mengulang-ulang pertanyaan ‘mengapa’, sampai ditemukan elemen dasar yang dapat diperbaiki.  Masalah yang dianalisis merupakan masalah yang diprioritaskan.  Metode ini dapat dipadukan dengan metode 5W1H.


5W1H
Metode ini berupa pertanyaan-pertanyaan yang meliputi what, why, who, where, when  dan  how.Pertanyaan-pertanyaan ini digunakan untuk memperoleh gambaran lebih jelas dan lengkap tentang perbaikan suatu system kerja. Misalnya untuk perbaikan sistem kerja, dijabarkan sebagai berikut:
>  what  : apa yang perlu diperbaiki
>  why  : mengapa perbaikan diperlukan
>  who  : siapa yang harus melakukan perbaikan
>  where  : di mana perbaikan perlu dilakukan
>  when  : kapan perbaikan perlu dilakukan
>  how  : bagaimana perbaikan dilaksanakan


Apa itu (Pengertian) Prinsip Ekonomi Gerakan Therblig


Prinsip Ekonomi Gerakan
Prinsip ekonomi gerakan digunakan untuk merancang sistem kerja dengan gerakan-gerakan kerja yang benar dan ekonomis (menghemat tenaga dan waktu). Secara garis besar, prinsip ini terdiri atas 3 bagian besar, yaitu prinsip ekonomi gerakan yang dihubungkan dengan:

1.  Tubuh manusia dan gerakannya
Terdapat beberapa prinsip ekonomi gerakan (referensi[6]):
>  Kedua tangan sebaiknya memulai dan mengakhiri gerakan pada saat yang sama 
>  Kedua tangan sebaiknya tidak menganggur pada saat yang sama kecuali pada waktu istirahat 
>  Gerakan kedua tangan akan lebih mudah jika satu terhadap lainnya simetris dan berlawanan arah 
>  Gerakan tangan atau badan sebaiknya dihemat >  Sebaiknya para pekerja dapat memanfaatkan momentum untuk membantu pekerjaannya, pemanfaatan ini timbul karena berkurangnya kerja otot dalam pekerja 
>  Gerakan yang patah-patah, banyak perubahan arah akan memperlambatkan gerakan tersebut 
>  Gerakan balistik akan lebih cepat, menyenangkan dan lebih teliti dari pada gerakan yang dikendalikan 
>  Pekerjaan sebaiknya dirancang semudah-mudahnya dan jika memungkinkan irama kerja harus mengikuti irama yang alamiah bagi si pekerja 
>  Usahakan sesedikit mungkin gerakan mata 

2.  Pengaturan tata letak tempat kerja
>  Sebaiknya diusahakan agar badan dan peralatan mempunyai tempat yang tetap 
>  Tempatkan bahan-bahan dan peralatan ditempat yang mudah,  cepat,  dan enak untuk dicapai 
>  Tempat penyimpanan bahan yang akan dikerjakan sebaiknya memanfaatkan prinsip gaya berat sehingga bahan yang akan dipakai selalu tersedia di tempat yang dekat untuk diambil
>  Mekanisme yang baik untuk menyalurkan objek yang sudah selesai dirancang
>  Bahan-bahan dan peralatan sebaiknya ditempatkan teratur sedemikian rupa sehingga gerakan-gerakan dapat dilakukan dengan urutan terbaik 
>  Tinggi tempat kerja dan kursi sebaiknya  dirancang  sedemikian rupa sehingga alternatif berdiri atau duduk dalam menghadapi pekerjaan merupakan suatu hal yang menyenangkan 
>  Tipe tinggi kursi harus  dirancang  sedemikian rupa sehingga yang mendudukinya memiliki postur yang baik dan nyaman
>  Tata letak peralatan   dan pencahayaan sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga dapat membentuk kondisi yang baik untuk penglihatan 

3.  Perancangan peralatan
>  Sebaiknya tangan dapat dibebaskan dari semua pekerjaan bila penggunaan dari perkakas pembantu atau alat yang dapat digerakan dengan kaki dapat ditingkatkan 
>  Sebaiknya peralatan dirancang sedemikian rupa agar mempunyai lebih dari satu kegunaan 
>  Peralatan sebaiknya dirancang sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam pemegangan dan penyimpanan 
>  Bila setiap jari tangan melakukan gerakan sendiri-sendiri, misalnya seperti pekerjaan mengetik, beban yang didistribusikan pada jari harus sesuai
dengan kekuatan masing-masing jari 
>  Roda tangan dan  peralatan  lain  yang sejenis dengan itu sebaiknya diatur sedemikian  rupa  sehingga beban dapat melayaninya dengan posisi yang baik, dan dengan tenaga yang minimum 

Studi gerakan Therblig Frank dan Lilian Gilbreth Teknik Industri


Studi Gerakan
Studi gerakan merupakan salah satu metode pemetaan  sistem kerja dengan menganalisis gerakan  anggota  badan saat bekerja yang diuraikan dalam elemen-elemen gerakan. Salah satu penguraian elemen gerakan yang sering digunakan adalah Therblig yang dikembangkan oleh Frank dan Lilian Gilbreth. Elemen gerakan ini terdiri dari 17 elemen gerakan yang dapat dikelompokkan menjadi:

a.  Kelompok gerakan utama
Elemen-elemen gerakan yang bersifat memberi nilai tambah termasuk di dalamnya, yaitu assemble, disassemble dan use.

b.  Kelompok gerakan penunjang
Elemen-elemen gerakan yang kurang memberikan nilai tambah, namun diperlukan. Terdiri dari elemen gerakan reach, grasp, move dan released load. 
   
c.  Kelompok gerakan pembantu
Elemen-elemen  gerakan yang tidak memberikan nilai tambah dan memungkinkan untuk dihilangkan. Elemen-elemen gerakan yang termasuk di dalamnya, yaitu search, select, position, hold, inspection dan preDposition.

d.  Kelompok gerakan luar
Elemen-elemen  gerakan yang sama sekali tidak memberikan nilai tambah, sehingga sedapat mungkin dihilangkan. Terdiri dari elemen gerakan  rest to overcome fatigue, plan, unavoidable delay dan avoidable delay,.  

Contoh Jenis Peta-peta kerja setempat Teknik Industri


Peta-peta kerja setempat ini terdiri dari:

a.  Peta Pekerja dan Mesin
Peta kerja ini menggambarkan koordinasi antara waktu bekerja dan waktu menganggur pekerja dan mesin. Informasi terpenting dari peta kerja ini adalah hubungan antara waktu kerja operator dan waktu operasi mesin yang ditanganinya sehingga dapat dirancang suatu keseimbangan kerja antara pekerja dan mesin, utilisasi lebih pada kedua faktor, dan keseimbangan di keseluruhan siklus kerja.

b.  Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan
Pada peta kerja ini digambarkan gerakan-gerakan tangan kiri dan tangan kanan pekerja secara detail saat melakukan pengerjaan suatu produk. Dengan demikian dapat dibandingkan besarnya tugas yang dibebankan dan waktu pengerjaan masing-masing gerakan pada kedua tangan. Berikut ini merupakan contoh dari PTKTK:

Contoh Jenis Peta-Peta Kerja Keseluruhan Teknik Industri


Peta-Peta Kerja
Dalam buku  Teknik Perancangan Sistem Kerja,  disebutkan bahwa peta kerja merupakan suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas (biasanya kerja produksi). Studi seksama yang dilakukan pada peta-peta kerja dapat menjadi salah satu acuan untuk perbaikan metode kerja karena peta-peta kerja menggambarkan  keseluruhan proses yang dialami  raw material  dari awal hingga menjadi benda jadi (finish good) dan seluruh langkah yang dilewatinya. Peta-peta kerja yang ada dibagi menjadi 2, yaitu peta kerja keseluruhan dan peta kerja  setempat. Bentuk dan cara penyusunan peta-peta tersebut selengkapnya terdapat pada referensi [5].

3.1.1.1  Peta-peta Kerja Keseluruhan
Peta-peta kerja keseluruhan digunakan untuk menganalisis suatu kegiatan kerja yang bersifat keseluruhan, yang umumnya melibatkan sebagian besar atau semua sistem kerja yang diperlukan dalam pembuatan sebuah produk. Peta-peta kerja ini menggambarkan keseluruhan proses produksi serta interaksi antar stasiun kerja dan antar kelompok kegiatan operasi. Peta-peta kerja keseluruhan terdiri dari :

a.  Diagram Rakitan (Assembly Chart, AC)
Diagram rakitan merupakan gambaran grafis urutan aliran perakitan suatu produk sehingga dapat diketahui:
>  Komponen-komponen pembentuk suatu produk
>  Urutan perakitan komponen-komponen tersebut
>  Keterkaitan antar komponen

b.  Peta Proses Operasi (Operation Process Chart,OPC)
Peta proses operasi menunjukkan urutan operasi, inspeksi, kelonggaran
waktu, dan material yang digunakan dalam proses bisnis atau manufaktur, dari raw material sampai dengan packaging produk jadi. OPC sebagai tool memiliki kelebihan diantaranya : 
>  Mengidentifikasi seluruh operasi, inspeksi, material, gerakan, penyimpanan, dan delays yang terlibat di dalam suatu proses
>  Menunjukkan seluruh kejadian dalam urutan yang benar
>  Menunjukkan hubungan antara  parts  dengan kompleksitas pembuatannya
>  Membedakan antara produk yang dibeli dan dibuat
>  Menyediakan informasi tentang jumlah waktu yang dibutuhkan
untuk melakukan setiap operasi dan inspeksi Elemen kerja yang digambarkan pada peta ini terdiri dari operasi, inspeksi, dan penyimpanan.

c.  Peta Aliran Proses (Flow Process Chart, FPC)
Peta aliran proses menggambarkan aliran barang,pekerja,  atau  kertas dalam suatu proses  atau prosedur operasi. Pada peta kerja ini, elemen kerja yang digunakan lebih detail, yaitu :
>  operasi 
>  inspeksi
>  transportasi
>  penyimpanan sementara
Namun peta aliran proses tidak menggambarkan proses produksi suatu produk secara keseluruhan, melainkan hanya terbatas untuk tiap komponen pembentuk produk akhir tersebut.

d.  Peta Proses Kelompok Kerja
Pada dasarnya peta kerja ini merupakan bagian dari peta aliran proses. Peta kerja ini digunakan pada suatu tempat kerja dimana untuk melaksanakan pekerjaan diperlukan kerjasama yang baik dari sekelompok pekerja, misalnya pergudangan.

e.  Diagram Aliran
Diagram aliran merupakan suatu gambaran menurut skala tertentu dari susunan lantai dan gedung pabrik yang menunjukkan lokasi dari semua aktivitas yang terjadi pada peta aliran proses. Dengan mengetahui tata letak tempat perpindahan suatu barang, maka dapat dianalisa agar jarak perpindahan tersebut minimum.
3.1.1.2  Peta-peta Kerja Setempat
Peta-peta kerja yang termasuk peta kerja setempat digunakan untuk menganalisis kegiatan kerja pada satu stasiun kerja tertentu, karena peta kerja ini menggambarkan proses produksi yang terjadi pada stasiun kerja itu saja. Proses produksi ini dijabarkan dengan elemen-elemen gerakan operator yang lebih detail daripada peta-peta kerja keseluruhan. 

Pentingnya Pemetaan Sistem Kerja Teknik Industri


PEMETAAN SISTEM KERJA 
Seorang sarjana Teknik Industri diharapkan mampu mengelola faktor-faktor yang membentuk suatu sistem kerja yang terdiri dari pekerja (man), mesin (machine), metode kerja (method), material (material) dan lingkungan kerjanya (environment)  sehingga  sistem kerja  yang dihasilkan lebih memenuhi kriteria EASNE (efektif, aman, sehat, nyaman, dan efisien).

Salah satu faktor dari sistem kerja yaitu metode kerja (method). Metode  kerja merupakan faktor yang harus diperhatikan, karena hal ini berkaitan erat dengan waktu siklus. Waktu siklus  dari suatu elemen kerja  bergantung pada metode kerja yang diterapkan. Metode kerja yang lebih baik (pada saat itu) dipilih dari beberapa alternatif metode kerja  yang didapatkan  dari hasil eksperimen yang dilakukan dengan cara membandingkan peta-peta kerja dari metode-metode kerja tersebut.  

Optimasi metode kerja tidak hanya sekedar memilih metode dan mencari waktu kerja yang tersingkat,  tetapi juga harus mempertimbangkan  adanya pengurangan terhadap kelelahan kerja, penghilangan masalah yang timbul pada sistem kerangka-otot, dan rasa tanggung jawab untuk menjadikan pekerjaan tersebut  tidak membosankan. 
Pengembangan metode kerja pada umumnya merupakan pekerjaan  yang menerapkan prinsip-prinsip ekonomi gerakan,  ergonomi, dan psikologi. Modul ini menitikberatkan pada alasan serta dasar-dasar penggunaan prinsip-prinsip studi dan ekonomi gerakan, sedangkan untuk penggunaan prinsip-prinsip ergonomi dan psikologi akan dibahas pada modul selanjutnya.