Monday, September 26, 2011

Pengertian Definisi (Apa itu) Ergonomi (Teknik Industri)


 Ergonomi adalah suatu cabang ilmu sistematis yang memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan, serta keterbatasan manusia, untuk merancang maupun memperbaiki suatu sistem kerja sehingga sistem kerja menjadi Efektif, Aman, Sehat, Nyaman, dan Efisien (EASNE). Ergonomi yang merupakan ilmu perancangan berbasis manusia (Human Centered Design) dirasakan semakin penting hingga saat ini, dikarenakan:
  Manusia adalah sumber daya utama dalam sebuah sistem
  Adanya regulasi nasional maupun internasional mengenai sistem kerja dimana manusia terlibat di dalamnya
  Para pekerja adalah human being
Dengan diterapkannya ergonomi, sistem kerja dapat menjadi lebih produktif dan efisien. Dilihat dari sisi rekayasa, informasi hasil penelitian ergonomi dapat dikelompokkan dalam lima bidang penelitian, yaitu:
1.  Antropometri
2.  Biomekanika
3.  Fisiologi
4.  Penginderaan
5.  Lingkungan fisik 

Pengertian Definisi (Apa itu) ANTROPOMETRI (Ergonomi)


ANTROPOMETRI
Dalam perancangan suatu sistem kerja, pendekatan human centered design akan berusaha mengakomodasi kebutuhan sebanyak mungkin pengguna dari sistem kerja tersebut. Karenanya,  perancang harus mempertimbangkan dimensi tubuh yang berkaitan dari populasi pengguna sistem kerja tersebut agar rancangan yang dibuat sesuai dengan penggunanya. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan sebuah pengetahuan mengenai pengukuran dimensi tubuh manusia yang relevan serta perancangan alat atau benda yang berkaitan. Pengetahuan tersebut disebut juga sebagai Antropometri.

Antropometri dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu :
1.  Antropometri Statis / Struktural
Pengukuran dimensi pada permukaaan tubuh manusia dengan orang  yang diukur dalam
keadaan diam/statis.
Contoh : pengukuran tinggi badan berdiri.

2.  Antropometri Dinamis / Fungsional
Pengukuran dimensi tubuh manusia dan ciri-ciri fisik lain yang berkaitan saat orang yang diukur sedang bergerak atau sedang melaksanakan   pekerjaan yang berkaitan.
Contoh : pengukuran sudut putaran tangan.

Isu yang perlu diperhatikan adalah adanya variasi dimensi tubuh manusia bahkan dalam populasi yang sama. Adapun faktor penyebab perbedaan ini diantaranya adalah :
1.  Umur
2.  Jenis Kelamin
3.  Rumpun dan Suku Bangsa
4.  Kondisi Sosio Ekonomi serta asupan gizi
5.  Pekerjaan dan aktivitas sehari-hari
6.  Waktu pengukuran

Tipe/Jenis Antropometri Statis dan Dinamis


Antropometri dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu :
1.  Antropometri Statis / Struktural
Pengukuran dimensi pada permukaaan tubuh manusia dengan orang  yang diukur dalam
keadaan diam/statis.
Contoh : pengukuran tinggi badan berdiri.

2.  Antropometri Dinamis / Fungsional
Pengukuran dimensi tubuh manusia dan ciri-ciri fisik lain yang berkaitan saat orang yang diukur sedang bergerak atau sedang melaksanakan   pekerjaan yang berkaitan.
Contoh : pengukuran sudut putaran tangan.

Isu yang perlu diperhatikan adalah adanya variasi dimensi tubuh manusia bahkan dalam populasi yang sama. Adapun faktor penyebab perbedaan ini diantaranya adalah :
1.  Umur
2.  Jenis Kelamin
3.  Rumpun dan Suku Bangsa
4.  Kondisi Sosio Ekonomi serta asupan gizi
5.  Pekerjaan dan aktivitas sehari-hari
6.  Waktu pengukuran

Perancangan Stasiun Kerja dengan Antropometri


Perancangan Stasiun Kerja dengan Antropometri

Terdapat 2 pilihan metode perancangan stasiun kerja dengan antropometri, yaitu :
1.  Menyesuaikan dengan setiap individu pengguna stasiun kerja tersebut Perancangan stasiun kerja disesuaikan dengan individu yang akan menggunakan stasiun kerja tersebut, sehingga antar stasiun kerja yang sama namun jika penggunanya  berbeda akan memiliki dimensi yang berbeda pula.

2.  Menyesuaikan dengan populasi pengguna stasiun kerja tersebut Dalam perancangan ini digunakan konsep persentil untuk memenuhi keamanan dan kenyamanan bagi populasi pengguna suatu stasiun kerja. Kategori perancangan ini terbagi ke dalam 3 sub-kategori, yaitu :

a.  Design for extreme individuals
Perancangan fasilitas kerja yang disesuaikan dengan batasan populasi pengguna dengan menggunakan nilai maksimum atau minimum (umumnya menggunakan persentil 5 atau 95).

b.  Design for adjustability
Perancangan fasilitas yang ukurannya dapat disesuaikan (dalam rentang tertentu).

c.  Design for average
Perancangan fasilitas dengan menggunakan patokan persentil 50 atau ukuran rata-rata dari populasi penggunanya.

Perancangan dengan konsep persentil inilah yang umum digunakan dalam  perancangan suatu produk. Pemilihan menggunakan nilai persentil yang mana disesuaikan dengan penggunaan dan kegunaan dari produk yang akan didesain. Karena itulah data antropometri sangat penting untuk ada karena data antropometri bisa menggambarkan ukuran fisik suatu populasi yang bisa dimanfaatkan untuk perancangan. Data antropometri didapat dari pengukuran sekelompok populasi yang ingin digambarkan ukuran fisiknya. Data hasil pengukuran tersebut kemudian harus diuji dan diolah dengan cara-cara di bawah ini sebelum bisa digunakan sebagai penggambaran ukuran suatu populasi.

Pedoman (Cara) Pengukuran Data Antropometri Statis


Pedoman pengukuran data antropometri

Pengukuran Antropometri Statis

    1.1 Posisi : Duduk ; Alat : kursi antrop
1   Tinggi duduk tegak     Ukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ujung atas kepala. Subjek duduk tegak dengan memandang lurus ke depan, dan lutut membentuk sudut siku-siku.  

2   Tinggi duduk normal     Ukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ujung atas kepala Subjek duduk normal dengan memandang lurus ke depan, dan lutut membentuk sudut siku-siku.  

3   Tinggi mata duduk     Ukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ujung mata bagian dalam. Subjek duduk tegak dan memandang lurus ke depan.  

4   Tinggi bahu duduk     Ukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ujung tulang bahu yang menonjol pada saat subjek duduk tegak.  

5   Tinggi siku duduk     Ukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ujung bawah siku kanan. Subjek duduk tegak dengan lengan atas vertikal di sisi badan dan lengan bawah membentuk sudut siku-siku dengan lengan atas.  

6   Tinggi sandaran punggung     Ukur jarak vertikal  dari permukaan alas duduk sampai pucuk belikat bawah. Subjek duduk tegak dan memandang lurus ke depan.  

7   Tinggi pinggang     Ukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai pinggang. Subjek duduk tegak dan memandang lurus ke depan.  

8   Tinggi popliteal     Ukur jarak vertikal dari lantai sampai bagian bawah paha. Subjek duduk tegak dan memandang lurus ke depan.  

9  Panjang Pantat ke politeal     Ukur jarak horizontal dari bagian terluar pantat sampai lekukan lutut sebelah dalam (popliteal). Paha dan kaki bagian bawah membentuk sudut siku-siku. Subjek duduk tegak dan memandang lurus ke depan.  

10  Panjang Pantat ke lutut     Ukur jarak horizontal dari bagian terluar pantat sampai ke lutut. Paha dan kaki bagian bawah membentuk sudut siku-siku (No.9 + Tebal lutut).Subjek duduk tegak dan memandang lurus ke  depan.

11   Lebar bahu     Ukur jarak horizontal antara kedua lengan atas. Subjek duduk tegak dengan lengan atas merapat ke badan dan lengan bawah direntangkan ke depan.  

12   Lebar  sandaran  duduk     Ukur jarak horizontal antara kedua tulang belikat. Subjek duduk tegak dengan lengan atas merapat ke badan dan lengan bawah direntangkan ke depan.  

13   Siku ke siku     Ukur jarak horizontal dari bagian terluar siku sisi kiri sampai bagian terluar siku sisi kanan. Subjek duduk tegak dengan lengan atas merapat ke badan dan lengan bawah direntangkan ke depan.  

14   Lebar pinggul     Ukur jarak horizontal  dari bagian terluar pinggul sisi kiri sampai bagian terluar pinggul sisi kanan. Subjek duduk tegak dan memandang lurus ke depan.  

15   Lebar pinggang     Ukur jarak horizontal dari bagian terluar pinggang sisi kiri sampai bagian terluar pinggang sisi kanan. Subjek duduk tegak dan memandang lurus ke depan. 


    1.2 Posisi : Berdiri  
16   Tinggi badan tegak    Ukur Jarak vertikal telapak kaki sampai ujung kepala yang paling atas. Sementara subjek berdiri tegak dengan mata memandang lurus ke depan.  
17   Tinggi mata berdiri    Ukur jarak vertikal dari lantai sampai ujung mata bagian dalam (dekat pangkal hidung). Subjek berdiri tegak dan memandang lurus ke depan.  

18   Tinggi bahu berdiri    Ukur jarak vertikal dari lantai sampai bahu yang menonjol pada saat subjek berdiri tegak.  

19   Tinggi siku berdiri     Ukur jarak vertikal dari lantai ke titik pertemuan antara lengan atas dan lengan bawah (siku). Subjek berdiri tegak dengan kedua tangan tergantung secara normal.  

20   Tinggi pinggang berdiri     Ukur jarak vertikal lantai sampai pinggang pada saat subjek berdiri tegak.  

21   Tinggi lutut berdiri     Ukur jarak vertikal lantai sampai lutut pada saat subjek berdiri tegak.  

22   Berat badan     Menimbang dengan posisi berdiri normal di atas   timbangan.  

23   Jangkauan tangan ke atas    Tangan menjangkau ke  atas setinggi-tingginya. Ukur jarak vertikal lantai sampai ujung jari tengah pada saat subjek berdiri tegak.  

1.3. Posisi : Duduk dan Berdiri Alat : Martin Set
24  Jangkauan tangan ke depan Ukur jarak horizontal dari punggung sampai ujung jari tengah. Subjek berdiri tegak dengan betis, pantat dan punggung merapat ke dinding, tangan direntangkan secara horizontal ke depan.

25  Rentangan tangan  Ukur jarak horizontal dari ujung jari terpanjang tangan kiri  sampai ujung jari terpanjang tangan kanan. Subjek berdiri tegak dan kedua tangan direntangkan horizontal ke samping sejauh mungkin.

26   Panjang lengan bawah     Subjek berdiri tegak, tangan disamping, ukur jarak  dari siku sampai pergelangan tangan.

27   Tebal dada     Subjek berdiri tegak, ukur jarak dari dada (bagian ulu hati) sampai punggung secara horizontal.  

28   Tebal  perut  berdiri     Subjek berdiri tegak, ukur (menyamping) jarak dari perut depan sampai perut belakang secara horizontal.  

29   Panjang jari 1,2,3,4,5*     Diukur dari masing-masing pangkal ruas jari sampai ujung jari. Jari-jari subjek merentang lurus dan sejajar.  

30   Pangkal ke tangan     Diukur dari pangkal pergelangan tangan sampai pangkal ruas jari. Lengan bawah sampai telapak tangan subjek lurus.  

31   Lebar jari 2,3,4,5*     Diukur dari sisi luar jari telunjuk sampai sisi luar jari kelingking. Jari-jari subjek lurus dan merapat satu sama lain.  

32   Lebar telapak tangan     Diukur dari sisi luar ibu jari sampai sisi luar jari kelingking. Posisi jari seperti pada No. 3.  

33   Panjang telapak tangan     Diukur dari ujung jari tengah sampai pangkal pergelangan tangan.  

34   Tebal perut duduk     Subjek duduk tegak, ukur jarak samping dari belakang perut sampai ke depan perut.  

35   Tebal paha     Subjek duduk tegak, ukur jarak dari permukaan alas duduk sampai ke permukaan atas pangkal paha.  

*Keterangan : 1 = Jempol, 2= telunjuk, 3= tengah, 4= manis, 5= kelingking.

Tipe (Jenis) Cara Pengukuran Antropometri Dinamis


Pengukuran Antropometri Dinamis

1  Putaran Lengan :  Ukur sudut putaran lengan tangan bagian bawah dari posisi awal sampai ke putaran maksimum. Posisi awal lengan tangan bagian bawah ditekuk ke kiri semaksimal mungkin, kemudian diputar ke kanan sejauh mungkin. Kemudian putar dari posisi awal ke kiri sejauh mungkin. 

2  Putaran telapak tangan :  Ukur sudut putaran cengkraman jari tangan. Posisi awal, jari-jari mencengkram batang tengah busur. Kemudian diputar ke kanan sejauh mungkin (pergelangan dan lengan tangan tetap diam). Lalu dengan cara yang sama diputar ke kiri sejauh mungkin. 

3  Sudut telapak kaki :  Ukur sudut putaran vertikal telapak kaki. Posisi awal, telapak kaki diputar ke bawah sejauh mungkin. Kemudian busur dikalibrasikan ke 0o.. Setelah itu kaki dinaikkan setinggi mungkin. Hitung sudut putaran. 

Pengertian (Apa Itu) Biomekanika (Ergonomi)


BIOMEKANIKA
Biomekanika menggunakan konsep fisika dan teknik untuk menjelaskan gerakan pada bermacam-macam bagian tubuh dan gaya yang bekerja pada bagian tubuh pada aktivitas sehari-hari  (Chaffin, 1991).  Adapun pengertian lain dari biomekanika adalah ilmu yang menggunakan hukum-hukum fisika dan konsep-konsep mekanika untuk mendeskripsikan gerakan dan gaya pada berbagai macam bagian tubuh ketika melakukan aktivitas. Aspek biomekanika dapat diamati dalam setiap pekerjaan fisik. Salah satu contohnya adalah pemindahan bahan manual, seperti  pengangkatan dan pemindahan secara manual, atau pekerjaan lain yang dominan menggunakan otot tubuh.  Dalam bidang industri hampir semua pekerja, karyawan atau operator melibatkan otot dalam pekerjaannya baik pekerjaan statis maupun dinamis yang memungkinkan terjadinya  Musculoskeletal Disorders (MSDs) yang menjadi isu besar di kalangan industri saat ini.
Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada  sistem otot (muskuloskeletal) seperti tendon, pembuluh darah, sendi, tulang, syaraf dan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas kerja. Keluhan muskuloskeletal sering juga dinamakan MSDs (Musculoskeletal Disorders). Berdasarkan OHSCOs (2007), ada 4 faktor yang dapat meningkatkan timbulnya MSDs yaitu postur yang tidak alamiah (awkward posture), tenaga yang berlebihan  (forceposition), pengulangan berkali-kali  (repetitive motion), dan postur kerja statis (static posture).
Berbagai macam metode telah tersedia untuk mengevaluasi apakah suatu pekerjaan berpotensi menyebabkan penyakit akibat kerja ini. Antara lain adalah RWL  (Recommended Weight Limit) untuk mengevaluasi kegiatan pengangkatan statis.  

Cara Menghitung (Apa Itu) Pengertian RWL (Recommended Weight Limit)


RWL
Sebuah lembaga yang menangani masalah  keselamatan  dan  kesehatan  kerja di Amerika, NIOSH (National Institute of Occupational Safety and Health) melakukan analisis terhadap kekuatan manusia dalam mengangkat atau memindahkan beban, serta merekomendasikan batas maksimum beban yang masih boleh diangkat oleh pekerja yaitu Action Limit (AL) dan MPL (Maximal Permissible Limit) pada tahun 1981. Pedoman ini kemudian direvisi menjadi RWL (1991), yaitu batas beban yangdapat diangkat oleh manusia tanpa menimbulkan cedera meskipun pekerjaan tersebut dilakukan secara berulang-ulang dalam durasi kerja tertentu (misal 8 jam sehari) dan dalam jangka waktu yang cukup lama. RWL   dalam sistem pemindahan bahan secara manual sederhana didefinisikan dengan persamaan berikut:

RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM

Keterangan :
RWL  : Batas beban yang direkomendasikan
LC  : Konstanta pembebanan                                      = 23 kg
HM  : Faktor pengali horizontal                  = 25/H  ( H dalam cm)
DM  : Faktor pengali perpindahan             = 0.82 + 4.5/D (D dalam cm)
AM  : Faktor pengali asimetrik               = 1 – (0.0032 A) (A dalam derajat)
FM  : Faktor pengali frekuensi  
CM  : Faktor pengali kopling (handle)
VM  : Faktor pengali vertikal                        = (1-(0.003[V-75])) (V dalam cm)

Horizontal Location (H)  :  Jarak  dari telapak tangan ke titik tengah antara 2 tumit  (diproyeksikan pada lantai)
Vertical Location (V)                       :   Jarak antara kedua tangan dengan lantai
Vertical Travel Distance (D)          :  Jarak perbedaan ketinggian vertikal antara  destination  dan  origin  pada pengangkatan
Lifting Frequency (F)                      :  Angka rata-rata pengangkatan/menit selama periode 15 menit
Angle (A)                                             :  Sudut asimetrik merupakan sudut yang dibentuk antara garis                                                                     asimetrik dan pertengahan garis sagital
Garis Asimetrik  :  Garis horizontal yang menghubungkan titik tengah dari garis penghubung kedua mata kaki bagian dalam dan proyeksi titik tengah beban pada lantai
Garis Sagital  :  Garis yang melalui titik tengah kedua mata kaki bagian dalam dan berada pada bidang sagital
Bidang Sagital  :  Bidang yang membagi tubuh menjadi dua bagian, kanan dan kiri, saat posisi tubuh netral (tangan berada di depan tubuh dan tidak ada perputaran pada bahu dan kaki)

Besarnya FM dan CM dapat dilihat di tabe FM dan CM (lampiran)
  
Telah dilakukan penelitian mengenai rumus RWL yang telah disesuaikan untuk orang Indonesia.
Berikut ini adalah penelitian-penelitian faktor pengali yang telah dilakukan, yaitu:
1.  Horizontal Multiplier oleh Mahachandra, 2006
2.  Vertical Multiplier oleh Widyanti, 1998
3.  Assymetric Multiplier oleh Salmiah, 2001
4.  Frequency Multiplier oleh Alwin, 2005 

Cara Menghitung (Apa Itu) Pengertian Lifting Index


Lifting Index

Setelah diketahui nilai RWL, selanjutnya dilakukan perhitungan  Lifting Index, untuk mengetahui apakah  pengangkatan yang dilakukan memiliki risiko cidera.  Lifting Index  digunakan  untuk mengestimasi tingkat tegangan fisik dalam suatu kegiatan pemindahan material secara manual.
Persamaan dari Lifting Index adalah:
Lifting Index = Berat Aktual/RWL
             
Dengan interpretasi:
  LI < 1 : Ok, Tidak berpotensi menimbulkan resiko 
  LI > 1 : Berpotensi menimbulkan resiko 
  LI > 3 : Berkemungkinan besar menimbulkan resiko
Jika LI > 1, berat beban yang diangkat melebihi batas pengangkatan yang direkomendasikan. Dengan demikian, maka aktivitas tersebut mengandung  potensi resiko cedera muskuloskeletal. Jika LI < 1, berat beban yang diangkat tidak melebihi batas pengangkatan yang direkomendasikan. Dengan demikian, maka aktivitas tersebut tidak mengandung risiko cidera (Waters et al. 1993).
III DAFTAR PUSTAKA
Laboratorium Perancangan Sistem Kerja & Ergonomi, 1994-1996.  Lokakarya I-III Methods Engineering. Bandung: Teknik Industri ITB.
Laboratory of Eastman Kodak Co., 1983. Antropometric methods: the human factor section health.
Safety, & human factors, ergonomic design for people at work.  California: Lifetime Learning Publications.
McCormick, Ernest J., 1993. Human factors in engineering and design. New York: Mc Graw Hill.
Niebel, B.W. and Freivalds, A., 1999. Methods, standards, and work design, 9th  ed. New York: Mc Graw Hill.
Roebuck, J., 1995. Anthropometric methods: designing to fit the human body, human factors, and ergonomics society. California: Santa Monica.
Sutalaksana, I., 1979. Teknik tata cara kerja. Bandung: MTI ITB.
Water, T., et al., 1994. Applications manual for the revised NIOSH lifting equation.