Thursday, August 25, 2011

20 Akademisi Muda Top (2 Dosen ITB Masuk)


TEMPO Interaktif, Jakarta - Majalah CAMPUS Indonesia terbitan Agustus 2011 memaparkan 20 Akademisi Top Indonesia. Mereka muda, berprestasi, dan penuh karya di sejumlah universitas di Indonesia. Akademisi tersebut semuanya berusia di bawah 50 tahun. Berikut ini nama-nama mereka.

1. Prof. Firmanzah, 35 tahun, dekan Fakultas Ekonomi termuda, Universitas Indonesia.

2. Prof. Eko Prasojo, 41 tahun, profesor termuda di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (35 tahun).

3. Prof. Adrianus Meliala, 45 tahun, pakar kriminologi Universitas Indonesia.

4. Prof. Ismunandar, 38 tahun, profesor termuda di Institut Teknologi Bandung ITB (pakar kimia).

5. Dr. Penia Kresnowati, 30 tahun, dosen Teknik Kimia, ITB.



6. Erie Febrian, Phd, 39 tahun, pakar bidang keuangan dan bank, pemegang dua kali Outstanding Research Award US dan Kosta Rika, Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran.

7. Aldrin Herwany, 42 tahun, pakar bidang keuangan dan bank, pemegang dua kali Outstanding Research Award US dan Kosta Rika, Fakultas Ekonomi, Universitas Padjajaran.

8. Prof. Gamantyo Hendranto, 41 tahun, menjadi guru besar pada usia 37 tahun, Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

9. Burhanudin Muhtadi, 34 tahun, pakar masalah sosial dan politik, Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

10. Effendi Gazali , PhD, 45 tahun, pakar komunikasi, dosen Universitas Indonesia.

11. Reza Indragiri Amriel, 37 tahun, pakar psikologi forensik, dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Universitas Indonesia, Universitas Tarumanegara, Universitas Bina Nusantara.

12. Eep Saefulloh Fatah, 44 tahun, pakar politik Universitas Indonesia.

13. Prof. Syamsir Abduh, 43 tahun, pakar teknologi industri Universitas Trisakti.

14. Arya Vedakrana, PhD, doktor termuda umur 27 tahun (rekor MURI), Rektor Universitas Mahendradatta, Bali.

15. Irfan Abubakar, 44 tahun, pakar adab dan humaniora, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

16. Prof. Manlian Simanjuntak, 37 tahun, pakar bidang keamanan terhadap risiko kebakaran, guru besar diperoleh pada umur 35, Universitas Pelita Harapan.

17. Maria Rosalina Nindita Radyati, PhD, 44 tahun, pakar corporate social responsibility, Universitas Trisakti.

18. Arief Budi Witarto, PhD, 40 tahun, pakar diabetes dan kanker, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

19. Dr. Bayu Prawira Hie, 45 tahun, pakar manajemen strategik, Ketua Sekolah Tinggi Media Komunikasi Universitas Trisakti.

20. Muhammad Mukhtasar Samsudin, PhD, 42 tahun, Dekan Filsafat Universitas Gadjah Mada.

DIANING SARI

KESIMPULAN (POINT UMUM) KEILMUAN TEKNIK INDUSTRI

•    Teknik Industri lahir pada akhir abad ke - sembilan belas. Teknik Industri adalah profesi dinamis yang perkembangannya didorong oleh tantangan dan tuntutan dari manufaktur, pemerintah dan layanan organisasi sepanjang abad kedua puluh.

•    Sejarah Teknik Industri di Indonesia di awali dari kampus Universitas Sumatera Utara [USU] Medan pada tahun 1965 dan dilanjutkan dengan Teknik Industri ITB Institut Teknologi Bandung.

•    Persamaan Teknik Industri dengan Engineering lainnya terletak pada awalnya yaitu permintaan dari konsumen atau kebutuhan. Selain itu semua engineering termasuk Teknik Industri itu sendiri memerlukan suatu input yang diolah atau diproses agar menjadi suatu output.

•    Perbedaan Teknik Industri dengan Engineering lainnya terletak pada komponen sistem, ilmu pengetahuan yang dipakai, sistem yang diproses, tujuan, profesi dan output.


•    Dalam berjalannya era industri lahirlah konsep-konsep dari para tokoh pemikir untuk lebih mengefektikan dan mengefisiensikan produktivitas pekerja. Konsep tentang spesialisasi pekerja yang disampaikan Adam Smith, “motion and time” dari charles Babbage, “Interchangeable manufacture” dari Eli Whitney, dan yang paling utama adalah konsep dari Frederick Winslow Taylor mengenai “scientific method” dan beberapa tokoh lainnya seperti Frank Gilbert dan Lillian Gilberth menuntut keahlian teknis yang terlatih yang dapat merencanakan, mengorganisasikan dan menggerakkan/memimpin operasi-operasi dari sebuah sistem yang besar dan kompleks.

•    Profesi teknik industri memiliki kompetensi-kompetensi, di antaranya: Work Design and Measurement, Plant Location and layout Engineering Economy, Production Planning and Inventory Control, Statistical Quality Control, Linear Programming, Operations Research.

•    Ada beberapa lembaga keprofesian teknik industri, di antaranya IIE (Institute of Industrial and System Engineering), ISTMI (Ikatan Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri Indonesia), dsb.

•    Teknik industri banyak memberi dampak positif pada perkembangan ekonomi dunia, di antaranya: meningkatkan efisiensi dalam praktik bisnis melalui berbagai pengintegrasian sistem, pengorganisasian yang baik dan peningkatan produktivitas, pengaturan waktu standar produksi, menghasilkan metode analisa yang berguna bagi perusahaan, bantuan dalam membimbing masyarakat dan bisnis untuk lebih peduli kepada tenaga kerja mereka sementara meningkatkan struktur organisasi mereka, dsb.

•    Ada tiga bidang keahlian utama di teknik industri, yaitu kelompok keahlian rekayasa sistem manufaktur, kelompok keahlian rekayasa sistem manajemen industri, dan kelompok keahlian sistem industri dan tekno ekonomi.

•    Misi dan peran disiplin Teknik Industri pada hakekatnya bisa dikelompokkan kedalam tiga topik yang selanjutnya bisa dipakai sebagai landasan utama pengembangan disiplin ini; yaitu: berkaitan erat dengan permasalahan-permasalahan yang menyangkut dinamika aliran material yang terjadi di lantai produksi, berkaitan dengan dinamika aliran informasi, dan bergerak kearah persoalan-persoalan yang bersifat makro-strategis.

•    Persoalan yang dihadapi oleh profesi Teknik Industri tidak lagi dibatasi dalam skala kecil (mikro) melainkan berkembang ke skala besar (makro).

•    Dalam beberapa dekade terakhir ini profesi Teknik Industri lebih banyak dilibatkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan perencanaan strategis dan pengambilan keputusan pada tingkat manajemen puncak

PERAN SARJANA KEILMUAN TEKNIK INDUSTRI

PERAN
Misi dan peran disiplin Teknik Industri pada hakekatnya bisa dikelompokkan kedalam tiga topik yang selanjutnya bisa dipakai sebagai landasan utama pengembangan disiplin ini; yaitu:

 Pertama, berkaitan erat dengan permasalahan-permasalahan yang menyangkut dinamika aliran material yang terjadi di lantai produksi. Disini akan menekankan pada prinsip-prinsip yang terjadi pada saat proses transformasi --- seringkali juga disebut sebagai proses nilai tambah --- dan aliran material yang berlangsung dalam sistem produksi yang terus berkelanjutan sampai meningkat ke persoalan aliran distribusi dari produk akhir (output) menuju ke konsumen.

Topik kedua berkaitan dengan dinamika aliran informasi. Persoalan pokok yang ditelaah dalam hal ini menyangkut aliran informasi yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan manajemen khususnya dalam skala operasional. Hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan produksi agregat, pengendalian kualitas, dan berbagai macam problem manajemen produksi/operasional akan merupakan kajian pokoknya.

Selanjutnya topik ketiga cenderung membawa disiplin Teknik Industri ini untuk bergerak kearah persoalan-persoalan yang bersifat makro-strategis. Persoalan yang dihadapi sudah tidak lagi bersangkut-paut dengan persoalan-persoalan yang timbul di lini aktivitas produksi ataupun manajemen produksi melainkan terus melebar ke persoalan sistem produksi/industri dan sistem lingkungan yang berpengaruh signifikan terhadap industri itu sendiri. Topik ketiga ini cenderung membawa disiplin teknik industri untuk menjauhi persoalan- persoalan teknis (deterministik-fisik-kuantitatif) yang umum dijumpai di lini produksi (topik pertama) dan lebih banyak bergelut dengan persoalan non-teknis (stokastik-abstraktif-kualitatif).

Seorang professional Teknik Industri bisa diharapkan sebagai “problem solver” untuk membuat sistem produksi bisa dioperasikan dan dikendalikan secara lebih efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien (ENASE). Untuk itu eliminasi berbagai hal yang bersifat kontra-produktif seperti pemborosan waktu, uang, material, enersi dan komoditas lainnya merupakan fokus utama yang harus dikerjakan.

Untuk mengantisipasi problematika industri yang semakin luas dan kompleks, maka disiplin Teknik Industri telah menunjukkan banyak perubahan maupun penyesuaian dengan arah perkembangan yang ada. Adanya kehendak untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, dan disisi lain harus diikuti pula dengan keinginan untuk menekan biaya produksi (costs reduction program) serta waktu penyampaian barang (time delivery) secara tepat waktu merupakan langkah-langkah strategis yang harus dipikirkan oleh profesi Teknik Industri agar bisa meningkatkan daya saing perusahaan.

Selain itu ruang lingkup pasar tidak lagi harus bersaing di tingkat lokal (nasional) melainkan mengarah ke tingkat persaingan pasar global. Perubahan tantangan yang dihadapi oleh dunia industri jelas sekali juga akan membawa perubahan pada fungsi dan peran yang harus bisa dimainkan oleh disiplin Teknik Industri (Istiyanto, 1987). Jika pada awalnya profesi Teknik Industri secara tradisional mengurusi persoalan-persoalan di tingkat pengendalian operasional (manajemen produksi) seperti perancangan-perancangan tata-letak mesin, tata-cara kerja, sistem manusia-mesin (ergonomi) dan penetapan standard-standard kerja; maka dalam beberapa dekade terakhir ini profesi Teknik Industri lebih banyak dilibatkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan perencanaan strategis dan pengambilan keputusan pada tingkat manajemen puncak.

Persoalan yang dihadapi oleh profesi Teknik Industri tidak lagi dibatasi dalam skala kecil (mikro) melainkan berkembang ke skala besar (makro). Sebagai contoh kalau awalnya studi pengukuran kerja lebih difokuskan ke skala stasiun kerja sekedar mendapatkan standard-standard (waktu, output ataupun upah) kerja untuk merealisasikan konsep “the fair day’s pay for the fair day’s work”; maka peran profesi Teknik Industri modern belakangan ini banyak diperlukan untuk melakukan pengukuran produktivitas dan kinerja makro organisasi-perusahaan guna menilai sehat tidak-nya kondisi industri tersebut.

Profesi Kelompok keahlian Sistem Industri dan Tekno-Ekonomi

•    Kelompok keahlian Sistem Industri dan Tekno-Ekonomi
1.    General Manager
Cakupan kajian kelompok keahlian sistem industri dan tekno-ekonomi merupakan yang terluas dan banyak mengenai pengambilan keputusan. Hal ini merupakan salah satu kompetensi yang paling diperlukan seorang general manager, membuat keputusan yang tepat. Selain itu, kajian dalam kelompok keahlian sistem industri dan tekno-ekonomi juga mengenai pembuatan strategi dalam menghadapi persaingan pasar. General manager merupakan posisi paling strategis dimana ia harus membuat keputusan serta menentukan strategi dalam memajukan perusahaannya.

2.    Purchasing Manager
Beberapa kajian dari kelompok keahlian sistem industri dan tekno-ekonomi adalah pemenuhan kebutuhan perusahaan serta keputusan distribusi. Hal ini merupakan kompetensi dari seorang purchasing manager dimana ia bertugas mengelola pembelian dari kebutuhan-kebutuhan perusahaan. Pembelian tersebut harus dilakukan secara terstruktur dan harus ada strategi pembelian untuk menekan biaya sebesar-besarnya. Dalam hal ini, kelompok keahlian sistem industri dan tekno-ekonomi sangat cocok untuk berperan sebagai purchasing manager.
3.    Wirausaha
Kelompok keahlian sistem industri dan tekno-ekonomi mempelajari secara menyeluruh fondasi-fondasi pembentukan dan pengoperasian suatu perusahaan, mulai dari merancang sistem operasi, meingintegrasikan berbagai komponen dalam sistem, penentu kebijakan, pembuatan keputusan, pembuatan strategi untuk menghadapi persaingan dagang, dsb. Hal tersebut sangat diperlukan oleh seorang wirausahawan untuk memulai dan menjalankan bisnisnya. Dalam hal ini, kelompok keahlian sistem industri dan tekno-ekonomi memenuhi kompetensi dasar untuk menjadi seorang wirausahawan sehingga profesi tersebut cocok untuk kelompok keahlian tersebut.